Kamis

The Francesco's Story (The Gargoyle karya Andrew Davidson; bab VI)

Penerbit Kantera, 26-Agustus-2009
The Francesco's Story (The Gargoyle karya Andrew Davidson; bab VI)

“Cinta itu sekuat kematian, sekeras Neraka.” Kematian memisahkan jiwa dari raga,Tapi cinta memisahkan segalanya dari jiwa.

Apabila ada satu hal yang diketahui pasti oleh Graziana, maka itu adalah bahwa Francesco tersayangnya adalah pria yang baik. Francesco seorang pandai besi di kota kecil mereka, dan dia mempertajam keahliannya: selalu berusaha menempa sepatu kuda yang lebih baik atau pedang yang lebih kuat. Terkadang dia lupa waktu dan berhenti hanya jika Graziana muncul di pintu bengkelnya, menyarankan agar dia mengurangi perhatian terhadap api dan lebih memerhatikan istrinya. Graziana bergurau bahwa pastilah Francesco melakukan suatu perbuatan yang sangat buruk di kehidupan sebelumnya sehingga dia begitu rajin mempersiapkan diri untuk pergi ke neraka. Frances¬co lantas tertawa, berjanji akan segera menyusul, dan Graziana juga tertawa. Dia tahu, mustahil suaminya berakhir di neraka.

Francesco tidak akan pernah terkenal sebagai “pembuat pedang terbaik di seluruh Italia” atau “pengrajin logam terbesar di Firenze,” tetapi itu tidak penting baginya. Dia ingin menjadi pedagang yang baik, pandai besi handal dengan harga yang pantas, namun keinginan sejatinya adalah menjadi suami yang baik. Di bengkelnya dia menempa hadiah-hadiah indah untuk Graziana—tempat lilin, peralatan makan, dan perhiasan paling menakjubkan. Dia selalu mengatakan bahwa prestasi terbaiknya sebagai pengrajin logam adalah cincin pernikahan yang ditempanya sendiri untuknya dan Graziana. Di salah satu ruangan rumah mereka, ada kumpulan mainan logam untuk anak yang sedang mereka upayakan kehadirannya. Dia berangan-angan suatu hari nanti akan menjadi ayah yang penyayang bagi anak-anak mereka.

Dia tidak begitu tampan, si Francesco Corsellini ini, tetapi demikian pula istrinya, tidak begitu cantik. Bagi sebagian perempuan, Francesco memiliki terlalu banyak bulu, dan lengan bajanya keluar dari tubuh yang dibentuk oleh terlalu banyak pasta dan bir. Graziana memanggilnya L’Orsacchiotto—Si Beruang—dan menusuk perut suaminya main-main, lalu Francesco akan menjawab, “Ini bukan gemuk. Ini otot yang beristirahat!”

Graziana memiliki rambut tebal dan mata berwarna gelap tetapi bagian lain tubuhnya biasa saja. Namun, manakala Francesco mengatakan kepadanya bahwa dialah wanita tercantik di Italia, Francesco sangat memercayai hal itu. Mereka saling jatuh cinta sejak kanak-kanak dan hampir tiada hari yang dilewatkan Francesco tanpa bersyukur kepada Tuhan karena beristrikan Graziana.

Mereka berbahagia. Graziana baik hati. Francesco setia. Ada lagi yang perlu dikatakan?

Sayangnya ada.

Waktu itu tahun 1347 dan sebuah penyakit-baru berjangkit dari China, penyakit paling mengerikan yang pernah dilihat semua orang. Ia menyapu mulai dari pelabuhan, memasuki kota dan pedesaan Italia, menewaskan penduduk seperti api kebakaran melalap pohon-pohon di hutan. Di kota, lonceng gereja berdentang tak henti-henti karena diyakini bunyinya dapat mengusir penyakit itu. Banyak orang mengira bau orang mati dapat membawa penyakit itu, maka mereka berjalan dengan sapu tangan yang sudah diberi parfum menutupi wajah mereka. Di mana-mana dupa dibakar, bercampur dengan bau busuk kematian …

Dan suatu siang, Graziana merasa demam. Dia beristirahat ke kamarnya untuk tidur siang. Ketika dia terbangun di senja hari, didapatinya ada benjolan sebesar telur di pangkal pahanya, dan bengkak di bawah ketiaknya. Dia tahu Kematian Hitam sudah datang menghampiri.

Di dapur, Francesco tengah menyiapkan makanan. Graziana berteriak menyuruhnya pergi, segera, karena Graziana sudah terserang penyakit itu. “Gavoccioli!” teriaknya. Ada bubo (Bubo adalah benjolan semacam bisul yang sangat menyakitkan di daerah ketiak, pangkal paha, atau leher, yang terjadi akibat adanya infeksi karena terkena wabah). Graziana mendesak Francesco untuk menyelamatkan diri, karena semua orang tahu bahwa tidak ada obat, tidak ada harapan. Dia memohon dengan sangat, “Pergilah! Pergilah sekarang juga!”

Ada keheningan menggantung di dapur. Graziana terbaring di tempat tidurnya, mendengarkan kesunyian yang menyelimuti jarak antara dia dan suaminya. Lalu dia mendengar suaminya mulai memukuli panci dan wajan untuk menutupi bunyi tangisnya. Hal itu berlangsung selama beberapa menit; lalu terdengar langkah Francesco menuju kamar Graziana. Graziana berteriak dan menyumpah dan berkeras agar Francesco menjauh, tetapi dia muncul di ambang pintu bersama sebaki pasta dan sejumlah anggur.

“Kau akan merasa lebih baik kalau kau makan, walau cuma sedikit,” ujar Francesco. Dia memasuki kamar, meletakkan baki, dan duduk di samping Graziana. Lalu dia bergerak akan mencium istrinya.

Graziana berusaha menjauh. Itulah kali pertama dan satu-satunya dalam hidupnya, Graziana berusaha menolak Francesco. Tetapi Francesco menggunakan kekuatan pandai besinya untuk mendesakkan diri dan mengecup semua keberatan Graziana kembali ke bibirnya. Setelah beberapa detik, Graziana menyadari tak ada gunanya melawan dan dia pun menerima Francesco. Selesai.

Malam itu mereka hanya makan sedikit, lalu berbaring. Lewat jendela, bulan purnama menyambangi mereka. “La luna e tenera,” ucap Francesco. Bulan itu lembut. Francesco menutup matanya dan memeluk Graziana erat-erat. Hal terakhir yang dilihat Graziana malam itu adalah wajah lelap Francesco. Saat terbangun keesokan paginya, wajah Francesco lah yang pertama dilihatnya. Demamnya menjadi-jadi, badannya bersimbah peluh, dan denyut jantungnya bertalu-talu.

“Lihatlah,” ujar Francesco lembut, “bintik-bintik hitam sudah mendatangi kulitmu.” Graziana mulai menangis, tetapi Francesco tersenyum dan membelai rambutnya. “Jangan mena¬ngis. Kita tidak punya waktu untuk air mata. Marilah kita mencinta selagi kita bisa.”

Siang itu juga, Graziana sampai pada puncak sakitnya. Selama tiga hari mereka berbaring bersama. Selama tiga hari, Graziana sekarat dengan payah dalam pelukan Francesco yang bercerita untuknya tentang angsa dan keajaiban dan cinta sejati. Pada tengah malam ketiga sakitnya, napas tersengal Graziana membangunkan Francesco. Graziana menghadapkan wajahnya ke wajah Francesco.

“Inilah saatnya.”

Francesco menjawab, “Aku akan segera menjumpaimu.”

Francesco mencium Graziana untuk terakhir kalinya, menghirup napas terakhir Graziana ke dalam dadanya. “Ti amo,” ucap¬nya. Aku cinta kau.

Setelah Graziana meninggal, Francesco meloloskan cincin perkawinan dari jari istrinya tersebut. Dia sekarang juga sakit parah, tetapi dia seret dirinya dari tempat tidur. Francesco nyaris tidak bisa berdiri, dilumpuhkan oleh mual dan demam, tetapi dia memaksakan diri memasuki bengkel pandai besinya. Ada satu hal lagi yang masih harus dikerjakan.

Dinyalakannya api dan dipanaskannya alat tempa. Francesco melelehkan kedua cincin kawin itu, dan menuangkannya ke dalam cetakan mata panah. Ketika mata panah itu selesai, dipasangkannya pada sebatang tangkai. Dia memandangi anak panah itu dari satu ujungnya, memastikan anak panah tersebut selurus yang pernah dia buat selama ini.

Francesco melepaskan busur yang tergantung di dindingnya. Busur itu kepunyaan ayahnya, seorang pemanah ulung yang terbunuh dalam peperangan saat Francesco dan adiknya, Bernardo, masih bayi. Busur ini, yang dibawa pulang ke Firenze oleh prajurit lainnya, adalah satu-satunya milik ayahnya yang di-punyai Francesco. Di luar benda itu, kenangan pun tak dia miliki tentang laki-laki tersebut.

Francesco kembali ke kamar, ke jasad Graziana. Dijangkaukannya tangan lewat jendela yang terbuka dan diletakkan¬nya panah dan busur itu di luar. Hari sudah senja, dan Francesco berseru kepada seorang anak laki-laki yang lewat, supaya dia bisa menitipkan pesan kepada adiknya yang tinggal di bagian lain kota itu. Dalam waktu sejam, Bernardo sudah berdiri di luar jendela kamar itu.

Francesco memohon kepada adiknya untuk tidak lebih mendekat, karena dia khawatir akan menularkan penyakit itu. Francesco mengajukan permintaan terakhir.

“Apa pun,” jawab Bernardo. “Aku menghormati permintaan terakhirmu.”

Setelah Francesco menyebutkan permohonannya, dia duduk di tempat tidur, menghadap ke jendela. Di antara isak tangisnya, Bernardo mengangkat busur itu dan meletakkan anak panah di tempatnya. Dia menarik napas panjang, menegakkan badannya, dan meminta ruh ayahnya untuk memandu anak panah itu menuju sasaran. Bernardo melepaskan tali panah dan membiarkan anak panah itu meluncur. Tembakannya jitu dan kematian itu seketika.

Francesco terhempas ke atas tempat tidur, di samping Graziana-nya, dengan mata panah yang terbuat dari cincin kawin mereka tertancap kuat di jantungnya. Dia meninggal sebagaimana dia hidup, dalam cinta.



Sumber: Redaktur

Tidak ada komentar: